Saat memulai semester ini aku hanya tinggal menyisakan satu mata kuliah wajib, kerja praktik, dan Tugas Akhir. Dengan kondisi seperti itu rasanya sangat sayang banget membayar uang kuliah yang cukup mahal.
Makanya aku mulai coba membolak-balik buku panduan kuliah untuk melihat mata kuliah pilihan yg bisa aku ambil untuk semester ini.
Dan secara ajaib aku seperti dituntun memilih satu mata kuliah yang namanya 'Change Management' (Manajemen Perubahan). Jujur aku mengambil atas beberapa kriteria, yaitu karena salah satu pengajarnya adalah Kresnayana Yahya (ahli statistik terkemuka, ^_^), tidak ada ujian tulis, dan mudah (menurut rekomendasi teman). Hahaha...
Namun setelah memulai kuliah ternyata sang pengajar harapan tidak kunjung hadir. Yang ada hanya dosen tetap kampus yg bernama Budi Gautama. Tapi aku percaya Tuhan rasanya turut 'memaksaku' untuk masuk ke kelas ini. Dalam setiap kesempatan banyak hal-hal positif yang sangat membangun untuk mengarahkanku ke perubahan yang lebih baik.
Sehingga tanpa disadari dalam 4 (empat) minggu awal sudah banyak perubahan kecil nan bermanfaat yang sudah aku lakukan. Selain itu, Tuhan mulai mengingatkan dan mengajar beberapa hal lewat berbagai perubahan tersebut.
Salah satu dari hal yang aku pelajari adalah bagaimana "PERUBAHAN TIDAK BISA DIKATAKAN PERUBAHAN KALAU TIDAK ADA YANG BERUBAH"
"Betul juga ya?" pikirku. Gimana mau dikatakan berubah kalau tidak ada sesuatu yang dirubah?
Nah, permasalahannya kita sering mengatakan tentang perubahan tanpa melakukan perubahan.
Banyak orang meneriakkan perubahan tapi tidak melakukan perubahan itu sendiri. contohnya saja satu kali ada sebuah berita sekelompok mahasiswa yang melakukan demonstrasi di gedung DPR RI untuk menghentikan tindakan korupsi dari para anggota DPR, sedangkan pada keadaan sehari-hari kita masih sering mendukung korupsi tersebut dengan membayar uang damai waktu kena tilang, nembak SIM, bikin KTP, Paspor, dll. So, bagaimana mau berubah? ^^
Hmm... Oke. So? Ketika diajar Tuhan soal perubahan lantas saya bertanya apakah perlu perubahan di dalam kekristenan? Ternyata sangat perlu!
Bahkan dikatakan kita perlu berubah dan tiap kita naik level dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu berubah. Ya seperti sekolah misalnya, tiap naik kelas kita akan mendapatkan pelajaran baru, cara belajar baru, dan metode yg baru.
Itu adalah proses menjadi sempurna. Dan sebagai anak Tuhan kita harus jadi sempurna seperti Tuhan -->
Mat 5:48 "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna"
Inilah patokan yang diberikan Tuhan untuk kita berubah dan menjadi sempurna seperti Bapa di sorga. Dan Dia juga ingin kita berubah secara terus-menerus untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi sehingga serupa dengan Allah.
di Kolose 3 : 10 dikatan :
“dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;”
Tapi yg terjadi sering kita nggak mau berubah. Terkadang malah dengan alasan yg rohani banget! Dengan mengatakan, "Saya ini konsisten, dengan cara ini, atau persembahan saya dari dulu sampai skarang sama! Rp 2000,-; pujian yg enak adalah musik era 90-an, dll" dan selanjutnya mengatakan bahwa Yesus kan selalu sama dari dahulu sampai selama-lamanya!
Wow! Please dech!
Dia kan Tuhan yg menjadi patokan kita. Kalau patokan kita untuk menjadi serupa dengan Dia yang berubah-ubah pasti kita bakal bingung mau ke arah yg mana? Dan nyatanya kita pasti akan terus perlu berubah untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Kadang saya mikir. Kondisi dulu rasanya lebih enak ya dari sekarang. Tp ternyata itu salah! Itu karena semua berubah dan secara tidak sadar saya telah menjadi orang yg berbeda dan lebih baik. Dulu saya mikir orang itu kondisi enak karena saya masih kecil dan belum bisa memikirkan banyak masalah. Dan sebenarnya saya sudah jauh lebih dewasa sehingga saya bisa melihat kondisi yg baik dan buruk. Nggak mungkin kan saya kembali lagi menjadi kecil lagi dan tetap berpikir sebagai anak kecil?
Sama ibaratnya dengan pakai HP! Nggak mungkin kan kalau kita terus akan menggunakan HP Motorola keluaran pertama yg beratnya 1 Kg klo skarang udah ada yg ringan, ada camera, bisa 3G, email, SMS, dll.?
Kalau boleh jujur sebenernya manusia itu juga adalah makhluk yg mudah sekali bosan. Dan pada dasarnya manusia akan merasa bosan akan sesuatu. Ini karena kita tahu bahwa akan ada yg lebih baik lagi dari yang ada sekarang. Klo skarang ada LCD Projector ngapain pake OHP untuk menampilkan presentasi? Betul ato tidak? hehehe...
Nah, Tuhan mau untuk kita berubah pada kemuliaan yg lebih besar. Pada saat kita diminta untuk berubah maka akan ada sesuatu yang ditambahkan Tuhan dalam hidup kita. Setiap kita membuka peluang untuk berubah, maka kita memberikan tempat untuk Tuhan mengisi hal-hal yang baru untuk kita menjadi lebih sempurna lagi. Seperti seorang wanita dalam Alkitab yang menyediakan buli-buli untuk menampung minyak dari Tuhan, maka minyak itu akan terus mengalir pada saat ia masih memiliki buli-buli untuk tempat minyak. Dan ketika buli-buli habis, maka minyak itu berhenti untuk mengalir.
Terus gimana sih caranya berubah?
Saat kelas Change Management saya dimulai, dosen langsung menyuruh kita mengambil secarik kertas dan menuliskan nama. Setelah itu, dia menyuruh untuk menuliskan 3 perubahan yg terjadi pada diri kami dalam 1 minggu terakhir. Tidak lupa kita diinstruksikan juga untuk menyertakan alasan dari perubahan tersebut. Kami masih bingung kenapa kami harus menuliskan hal tersebut. Ternyata di akhir aktivitas tersebut kami diminta untuk membacakannya dan menilai bersama apakah perubahan itu dari kesadaran sendiri (internal) atau paksaan/terpaksa oleh keadaan (eksternal).
Dari aktivitas itu, saya menyimpulkan ada dua cara agar kita bisa berubah, yaitu :
--> Berubah berdasarkan kesadaran diri sendiri (hikmat)
artinya seseorang sadar sebelum sesuatu terjadi dan kita bisa mengatur serta memimpin perubahan tersebut. Sehingga kita bisa mengantisipasi setiap masalah yg mungkin terjadi karena perubahan yang terjadi. Inilah yang semestinya dipilih, karena Tuhan senang dengan orang berhikmat dan kita tidak ketinggalan oleh perubahan yang terjadi.
--> Berubah karena terpaksa oleh keadaan (masalah)
artinya ada masalah baru berubah sehingga kita yang diatur dan dipimpin perubahan. Ini yang sering terjadi pada saya. Pada saat didesak oleh berbagai hal barulah saya mau berubah. Misalnya saja pada saat nilai ujian tengah semester saya jelek barulah saya merubah pola belajar saya supaya pada ujian akhir semester nilai saya bagus.
Lalu dosen saya mulai bercerita panjang lebar mengenai hambatan-hambatan orang untuk berubah.
Dari penjelasannya saya mendapatkan ada 5 hal yang membuat orang tidak mau berubah, yaitu:
-->Sombong → merasa tidak ada yg salah pada dirinya sehingga kita tidak mau berubah. Contohnya saja ketika banyak orang sudah mulai menggunakan ATM dan internet banking. Kakek saya masih memilih untuk mengambil uang di bank dan mebayar sesuatu secara tunai. Bukannya semakin memudahkan tapi malah semakin menyulitkan diri kita sendiri.
--> Rasa takut → karena setiap perubahan akan membawa dampak seperti, menjadi tidak nyaman, dengan keadaan yang baru, kehilangan jabatan, perubahan relationship dgn orang lain). Contohnya saja, pada saat saya bekerja paruh waktu di tabloid kampus saya menjadi seorang reporter dan ketika ada tawaran dari koran lokal untuk menjadi editor kolom remaja. Saya sempat berpikir takut untuk pindah dan kehilangan apa yang sudah saya dapat selama ini (teman, posisi, suasana dll). Inilah yg membuat orang takut untuk berubah.
NB : Kalau kita ngomong nggak mau berubah brarti kita menyatakan kalo kita sudah tidak sanggup menerima berkat yang jauh lebih besar dari Tuhan
--> Pemberontakan, setiap perubahan yg ada ditolak mentah-mentah tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. (jika tiap perubahan dibutuhkan dan kita tidak mau perubahan, maka sikapnya itu bisa menghancurkan dirinya sendiri)
--> Malas → terlalu merasa aman pada zona nyaman yg ada (kalau kita ngomong malas brarti kita berkata pada Tuhan untuk STOP berkat yang lebih besar)
--> Cuek → biar apapun yang terjadi nggak mau berubah
So, keputusan kembali lagi ke diri kita. Apakah kita mau berubah atau tidak..?
Yang pasti Tuhan mau saya berubah untuk menjadi lebih baik dan kemuliaan-NYA yg lebih besar.
saya akhiri dengan satu quotation dari Pastor Jeffrey Rachmat :
1. Orang yang SIBUK MENGUBAH ORANG LAIN adalah Orang yang kerjaannya me- MANIPULASI orang lain.
--> Percaya atau tidak banyak orang menjadi pemimpin seringkali ingin mengubah orang yang dipimpinnya. Saya pernah mendengar seorang yang mengatakan bahwa jika kita tidak memberikan persembahan ke dalam gereja kita sendiri, maka itu akan membuat kita masuk ke dalam neraka. Sebuah ancaman yang menakutkan bukan? Namun Yesus sendiri mengajar kita untuk lebih menjadi contoh bagi orang lain ketimbang sibuk dengan memberi batasan-batasan yang membuat orang tertekan atau takut. Bukankah lebih enak jika seseorang berubah karena kesadaran dengan melihat pemimpin melakukan hal yg sama dengan standar sesungguhnya daripada pemerintahan yg dengan memberi ultimatum dan ajakan secara berkala.
2. Sedangkan Orang yang SIBUK MENGUBAH DIRI SENDIRI adalah Orang yang menjadi INSPIRASI bagi orang lain!
--> Ini yang saya sebut dengan memperlihatkan Yesus di dalam diri kita. Jika saya menjadi Kristen maka saya diubahkan dengan meninggalkan hidup yg lama dan menerima hidup yang baru. Ketika orang melihat hal tersebut dan baik, maka orang akan mengikuti dan bahkan mendengarkan apa yang kita katakan.
Sekian. Semoga menjadi berkat buat teman-teman dan saudara saudari di dalam Kristus Yesus.
God Bless You All

Heh dajjal! Mana tanggung jawab kam! Beraninya lari bawa burung!!
BalasHapusBusuk! Burik! Miskin!
Kembalikan uang keluarga kami 300juta!!
BalasHapusKam telah melakukan pencurian di rumah keluarga kami! Sekarang sok melarikan diri! Najis kam dajjal ai! Memang kada beadat! Kada bemoral! Orang miskin!!