Selasa, 02 Februari 2010

PERUBAHAN


Saat memulai semester ini aku hanya tinggal menyisakan satu mata kuliah wajib, kerja praktik, dan Tugas Akhir. Dengan kondisi seperti itu rasanya sangat sayang banget membayar uang kuliah yang cukup mahal.

Makanya aku mulai coba membolak-balik buku panduan kuliah untuk melihat mata kuliah pilihan yg bisa aku ambil untuk semester ini.

Dan secara ajaib aku seperti dituntun memilih satu mata kuliah yang namanya 'Change Management' (Manajemen Perubahan). Jujur aku mengambil atas beberapa kriteria, yaitu karena salah satu pengajarnya adalah Kresnayana Yahya (ahli statistik terkemuka, ^_^), tidak ada ujian tulis, dan mudah (menurut rekomendasi teman). Hahaha...

Namun setelah memulai kuliah ternyata sang pengajar harapan tidak kunjung hadir. Yang ada hanya dosen tetap kampus yg bernama Budi Gautama. Tapi aku percaya Tuhan rasanya turut 'memaksaku' untuk masuk ke kelas ini. Dalam setiap kesempatan banyak hal-hal positif yang sangat membangun untuk mengarahkanku ke perubahan yang lebih baik.

Sehingga tanpa disadari dalam 4 (empat) minggu awal sudah banyak perubahan kecil nan bermanfaat yang sudah aku lakukan. Selain itu, Tuhan mulai mengingatkan dan mengajar beberapa hal lewat berbagai perubahan tersebut.

Salah satu dari hal yang aku pelajari adalah bagaimana "PERUBAHAN TIDAK BISA DIKATAKAN PERUBAHAN KALAU TIDAK ADA YANG BERUBAH"

"Betul juga ya?" pikirku. Gimana mau dikatakan berubah kalau tidak ada sesuatu yang dirubah?

Nah, permasalahannya kita sering mengatakan tentang perubahan tanpa melakukan perubahan.
Banyak orang meneriakkan perubahan tapi tidak melakukan perubahan itu sendiri. contohnya saja satu kali ada sebuah berita sekelompok mahasiswa yang melakukan demonstrasi di gedung DPR RI untuk menghentikan tindakan korupsi dari para anggota DPR, sedangkan pada keadaan sehari-hari kita masih sering mendukung korupsi tersebut dengan membayar uang damai waktu kena tilang, nembak SIM, bikin KTP, Paspor, dll. So, bagaimana mau berubah? ^^

Hmm... Oke. So? Ketika diajar Tuhan soal perubahan lantas saya bertanya apakah perlu perubahan di dalam kekristenan? Ternyata sangat perlu!

Bahkan dikatakan kita perlu berubah dan tiap kita naik level dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu berubah. Ya seperti sekolah misalnya, tiap naik kelas kita akan mendapatkan pelajaran baru, cara belajar baru, dan metode yg baru.

Itu adalah proses menjadi sempurna. Dan sebagai anak Tuhan kita harus jadi sempurna seperti Tuhan -->

Mat 5:48 "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna"

Inilah patokan yang diberikan Tuhan untuk kita berubah dan menjadi sempurna seperti Bapa di sorga. Dan Dia juga ingin kita berubah secara terus-menerus untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi sehingga serupa dengan Allah.

di Kolose 3 : 10 dikatan :
“dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;”

Tapi yg terjadi sering kita nggak mau berubah. Terkadang malah dengan alasan yg rohani banget! Dengan mengatakan, "Saya ini konsisten, dengan cara ini, atau persembahan saya dari dulu sampai skarang sama! Rp 2000,-; pujian yg enak adalah musik era 90-an, dll" dan selanjutnya mengatakan bahwa Yesus kan selalu sama dari dahulu sampai selama-lamanya!

Wow! Please dech!

Dia kan Tuhan yg menjadi patokan kita. Kalau patokan kita untuk menjadi serupa dengan Dia yang berubah-ubah pasti kita bakal bingung mau ke arah yg mana? Dan nyatanya kita pasti akan terus perlu berubah untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Kadang saya mikir. Kondisi dulu rasanya lebih enak ya dari sekarang. Tp ternyata itu salah! Itu karena semua berubah dan secara tidak sadar saya telah menjadi orang yg berbeda dan lebih baik. Dulu saya mikir orang itu kondisi enak karena saya masih kecil dan belum bisa memikirkan banyak masalah. Dan sebenarnya saya sudah jauh lebih dewasa sehingga saya bisa melihat kondisi yg baik dan buruk. Nggak mungkin kan saya kembali lagi menjadi kecil lagi dan tetap berpikir sebagai anak kecil?

Sama ibaratnya dengan pakai HP! Nggak mungkin kan kalau kita terus akan menggunakan HP Motorola keluaran pertama yg beratnya 1 Kg klo skarang udah ada yg ringan, ada camera, bisa 3G, email, SMS, dll.?

Kalau boleh jujur sebenernya manusia itu juga adalah makhluk yg mudah sekali bosan. Dan pada dasarnya manusia akan merasa bosan akan sesuatu. Ini karena kita tahu bahwa akan ada yg lebih baik lagi dari yang ada sekarang. Klo skarang ada LCD Projector ngapain pake OHP untuk menampilkan presentasi? Betul ato tidak? hehehe...

Nah, Tuhan mau untuk kita berubah pada kemuliaan yg lebih besar. Pada saat kita diminta untuk berubah maka akan ada sesuatu yang ditambahkan Tuhan dalam hidup kita. Setiap kita membuka peluang untuk berubah, maka kita memberikan tempat untuk Tuhan mengisi hal-hal yang baru untuk kita menjadi lebih sempurna lagi. Seperti seorang wanita dalam Alkitab yang menyediakan buli-buli untuk menampung minyak dari Tuhan, maka minyak itu akan terus mengalir pada saat ia masih memiliki buli-buli untuk tempat minyak. Dan ketika buli-buli habis, maka minyak itu berhenti untuk mengalir.

Terus gimana sih caranya berubah?

Saat kelas Change Management saya dimulai, dosen langsung menyuruh kita mengambil secarik kertas dan menuliskan nama. Setelah itu, dia menyuruh untuk menuliskan 3 perubahan yg terjadi pada diri kami dalam 1 minggu terakhir. Tidak lupa kita diinstruksikan juga untuk menyertakan alasan dari perubahan tersebut. Kami masih bingung kenapa kami harus menuliskan hal tersebut. Ternyata di akhir aktivitas tersebut kami diminta untuk membacakannya dan menilai bersama apakah perubahan itu dari kesadaran sendiri (internal) atau paksaan/terpaksa oleh keadaan (eksternal).

Dari aktivitas itu, saya menyimpulkan ada dua cara agar kita bisa berubah, yaitu :

--> Berubah berdasarkan kesadaran diri sendiri (hikmat)

artinya seseorang sadar sebelum sesuatu terjadi dan kita bisa mengatur serta memimpin perubahan tersebut. Sehingga kita bisa mengantisipasi setiap masalah yg mungkin terjadi karena perubahan yang terjadi. Inilah yang semestinya dipilih, karena Tuhan senang dengan orang berhikmat dan kita tidak ketinggalan oleh perubahan yang terjadi.

--> Berubah karena terpaksa oleh keadaan (masalah)

artinya ada masalah baru berubah sehingga kita yang diatur dan dipimpin perubahan. Ini yang sering terjadi pada saya. Pada saat didesak oleh berbagai hal barulah saya mau berubah. Misalnya saja pada saat nilai ujian tengah semester saya jelek barulah saya merubah pola belajar saya supaya pada ujian akhir semester nilai saya bagus.

Lalu dosen saya mulai bercerita panjang lebar mengenai hambatan-hambatan orang untuk berubah.
Dari penjelasannya saya mendapatkan ada 5 hal yang membuat orang tidak mau berubah, yaitu:

-->Sombong → merasa tidak ada yg salah pada dirinya sehingga kita tidak mau berubah. Contohnya saja ketika banyak orang sudah mulai menggunakan ATM dan internet banking. Kakek saya masih memilih untuk mengambil uang di bank dan mebayar sesuatu secara tunai. Bukannya semakin memudahkan tapi malah semakin menyulitkan diri kita sendiri.

--> Rasa takut → karena setiap perubahan akan membawa dampak seperti, menjadi tidak nyaman, dengan keadaan yang baru, kehilangan jabatan, perubahan relationship dgn orang lain). Contohnya saja, pada saat saya bekerja paruh waktu di tabloid kampus saya menjadi seorang reporter dan ketika ada tawaran dari koran lokal untuk menjadi editor kolom remaja. Saya sempat berpikir takut untuk pindah dan kehilangan apa yang sudah saya dapat selama ini (teman, posisi, suasana dll). Inilah yg membuat orang takut untuk berubah.

NB : Kalau kita ngomong nggak mau berubah brarti kita menyatakan kalo kita sudah tidak sanggup menerima berkat yang jauh lebih besar dari Tuhan

--> Pemberontakan, setiap perubahan yg ada ditolak mentah-mentah tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. (jika tiap perubahan dibutuhkan dan kita tidak mau perubahan, maka sikapnya itu bisa menghancurkan dirinya sendiri)

--> Malas → terlalu merasa aman pada zona nyaman yg ada (kalau kita ngomong malas brarti kita berkata pada Tuhan untuk STOP berkat yang lebih besar)

--> Cuek → biar apapun yang terjadi nggak mau berubah

So, keputusan kembali lagi ke diri kita. Apakah kita mau berubah atau tidak..?
Yang pasti Tuhan mau saya berubah untuk menjadi lebih baik dan kemuliaan-NYA yg lebih besar.

saya akhiri dengan satu quotation dari Pastor Jeffrey Rachmat :
1. Orang yang SIBUK MENGUBAH ORANG LAIN adalah Orang yang kerjaannya me- MANIPULASI orang lain.
--> Percaya atau tidak banyak orang menjadi pemimpin seringkali ingin mengubah orang yang dipimpinnya. Saya pernah mendengar seorang yang mengatakan bahwa jika kita tidak memberikan persembahan ke dalam gereja kita sendiri, maka itu akan membuat kita masuk ke dalam neraka. Sebuah ancaman yang menakutkan bukan? Namun Yesus sendiri mengajar kita untuk lebih menjadi contoh bagi orang lain ketimbang sibuk dengan memberi batasan-batasan yang membuat orang tertekan atau takut. Bukankah lebih enak jika seseorang berubah karena kesadaran dengan melihat pemimpin melakukan hal yg sama dengan standar sesungguhnya daripada pemerintahan yg dengan memberi ultimatum dan ajakan secara berkala.

2. Sedangkan Orang yang SIBUK MENGUBAH DIRI SENDIRI adalah Orang yang menjadi INSPIRASI bagi orang lain!
--> Ini yang saya sebut dengan memperlihatkan Yesus di dalam diri kita. Jika saya menjadi Kristen maka saya diubahkan dengan meninggalkan hidup yg lama dan menerima hidup yang baru. Ketika orang melihat hal tersebut dan baik, maka orang akan mengikuti dan bahkan mendengarkan apa yang kita katakan.

Sekian. Semoga menjadi berkat buat teman-teman dan saudara saudari di dalam Kristus Yesus.

God Bless You All

Keluarga dan Peran seorang Pria

Place : Rumah
Date : 19 Februari 2009

Senja tuk pertama kali di tahun 2009 aku dateng ke cell group di Pioneer. Rasanya sudah beberapa tahun aku tak menginjak kaki di tempat itu.

Namun hari ini tiba-tiba hatiku ingin datang ke persekutuan. Yah.. Selain libur juga ada kesempatan, biasanya aku terbentur kuliah dan kegiatan euodia teens. Seolah Tuhan memaksaku untuk datang dan mendapatkan 'wangsit' (wahyu) dari Bos segala Bos di Surga sono. Hehe...

Benar saja setelah datang ke sana jadi pemain gitar. Padahal nggak siap dan bersenandung ria dengan akrab. Eh waktunya kita lagi cerita-cerita, Ko Welly membuka dengan satu kata, yaitu 'Keluarga'.
"Begitu pentingnya keluarga, maka Iblis menjadikannya sasaran empuk untuk menguasai manusia," tutur suami ce Karina itu. Hehe...

Dari obrolan yang ngalor ngidul tersebut. Terjadi kesimpulan bahwa KELUARGA yang menentukan seseorang (pribadi) itu menjadi pribadi yang benar (baca: sesuai dengan yang Tuhan inginkan). Terutama aku tersadar tentang peran seorang pria di dalam keluarga. (karena gue adalah cowok tulen)

Dasarnya adalah :

PERTAMA,
Semua ciptaan yg dicipatain sama Bos Besar kita mulai hari pertama penciptaan hingga hari terakhir adaalah baik. Hanya satu ciptaan saja yg tidak baik, yaitu manusia. Lihat Kejadian 2: 18, 'TUHAN Allah berfirman, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Nah, maka dari itu Tuhan memberikan Hawa sebagai penolong Adam. Dan setelah itu jadilah sebuah keluarga yang utuh. Oleh karena itu, keluarga menjadi suatu tempat yang menentukan seseorang itu menjadi pribadi sesuai dengan rancangan yang baik sesuai yang Tuhan inginkan atau tidak.

Betul juga pikirku, rasanya akan lebih sempurna jika seorang pria bersatu dengan seorang wanita menjadi sebuah keluarga dan menelurkan bibit-bibit yang berkualitas. Tanpa ada keluarga tidak ada yang menjadi panutan, proteksi, dll. yang bisa membantu seseorang mengembangkan dirinya.

Memang banyak contoh tokoh sukses yang memiliki background keluarga yang buruk, tapi yang memiliki background keluarga yang baik biasanya akan memiliki karakter dan kesuskesan yang lebih baik pula. Dan kalau ditilik lebih jauh, jika orang sukses yg backgroundnya kurang baik tersebut memiliki keluarga, maka mereka tidak ingin memiliki keluarga yang sama buruknya dengan masa lalu mereka. Tapi yang mereka lakukan akan lebih baik.

KEDUA,
Beberapa waktu sebelumnya aku ikut dalam suatu workshop yang diadakan di UK Petra. Itu adalah workshop tentang terapi modifikasi perilaku pada kasus anak dan remaja & memahami homoseksualitas dan pemahamannya.

Dalam momen tersebut aku mendapatkan banyak pengetahuan mengenai problematika remaja dalam perilaku dan penyimpangan homoseksualitas. Namun yang menjadi kunci semua permasalahan tersebut adalah keluarga.

Mulai anak yang minder, lari ke obat-obatan, free sex, dan suka dengan sesama jenis adalah problem yang dibawa dari pencitraan yang salah di dalam keluarga. Baik dalam perlakuan secara fisik maupun mental.

Dan yang paling membuatku terperanjat adalah kenyataan bahwa orang yang paling punya pengaruh dalam perkembangan generasi selanjutnya adalah AYAH (pemimpin keluarga) = FATHER = LAKI-LAKI. Dan aku adalah seorang pria yang kelak akan menjadi ayah. Yang paling aku inget adalah tentang homoseksualitas.

Saat seorang ayah tidak mampu menunjukkan diri sebagai ayah yang baik (memberi perhatian, mengungkapkan kasih sayang, menyediakan waktu, mengajar, melindungi, dll),

1) bagi anak lelakinya ia tidak akan puas memiliki ayah seperti itu dan ia akan kehilangan gambar ayah yang sesungguhnya. Selanjutnya anak itu akan mencari lelaki lain yang bisa memberikan semuanya itu. (Inilah yang menjadi akar kesukaan pria pada sesamanya alias gay).

2) bagi anak wanitanya, ayah seperti itu bisa saja menjadi gambar ayah yang tidak bertanggungjawab. Ayah yang kasar (tak mampu mengungkapkan kasih sayang) bisa memberikan citra bahwa lelaki adalah makhluk yang tidak baik. Ayah yang tidak mampu melindungi gadis kecilnya (bahkan dalam beberapa kasus sampai ada yang melakukan pelecehan secara seksual) membuat anak gadis trauma terhadap lelaki. Inilah beberapa faktor yang bisa membuat seorang wanita suka kepada wanita.

Mungkin ada dunia bilang secara ilmiah, orang yg suka sesama jenis alias homoseksual itu karena kelainan gen, kromosom, dll. Tapi ternyata sodara-sodara, tidak ada satu pun penelitian baik dalam bentuk jurnal maupun seminar ataupun lab yang menyatakan bahwa hal tersebut adalah kelainan secara biologis.

Mungkin ada sebagian yang terlahir dengan kromosom maupun gen yg salah. Tapi semua itu persentasenya SANGAT KECIL. Dan hal tersebut adalah kasus khusus. Seperti orang yang lahir tanpa tangan. Jadi, seorang yg menjadi homoseksual 90 persen lebih adalah disebabkan oleh lingkungan, terutama keluarga.

KETIGA,
Aku teringat sebuah cerita mengenai dua keluarga (lupa siapa yang cerita, hehe...). Tapi di cerita itu dua keluarga tersebut sangat berseberangan kesehariannya. Satunya begitu cinta Tuhan, menjaga apa yang dilakukannya, dan melakukan setiap hal sesuai firmanNya. Tetapi yang satunya lagi hidup seenaknya, tidak peduli dengan firman Tuhan, judi, mabuk-mabukan, dll.

Nah, waktupun berlalu hingga mungkin puluhan tahun bahkan lebih. Setelah itu ada yang meneliti dua keluarga tersebut. Menjadi apakah keturunan-keturunan mereka.

Keluarga yang cinta Tuhan : keturunannya ada yang menjadi pejabat, profesor, dosen, guru, presiden, pengusaha sukses, dokter, dll. dan hampir semuanya adalah pekerjaan yang baik.

Keluarga yang sebaliknya : keturunannya ada yang menjadi pembunuh, perampok, psikopat, gigolo, wanita tuna susila, dll. dan hampir semuanya adalah pekerjaan yang serupa.

Bisa dilihat kan dari dua keluarga tersebut? Apabila kita memiliki keluarga yang baik, maka kita akan menghasilkan keluarga yang baik. Dan apabila kita memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing dengan hal tersebut, maka mungkin saja kita memiliki keluarga yang kurang baik dan membiarkan generasi penerus kita menjadi kurang baik pula.

Hal yang kuingat lagi dari Dave (pembicara workshop homoseksual tadi) yang sekali lagi dipandang dari sudut laki-laki (karena ini adalah yang paling menjadi biang kerok permaslahan keluarga), tapi tanpa mengesampingkan peran wanita sebagai ibu dan penolong keluarga.

Dia mengatakan bahwa pada saat dia menjadi homoseksual (ternyata dia adalah salah satu bukti hidup), ia mendapat gambar yang salah dari ayahnya. Dan pada saat ia menyadari hal tersebut, ia harus memutuskan sebuah perubahan dalam dirinya. Ia harus memilih apakah ia harus memilih apakah akan menjadi Ayah yang 'Baru' atau dengan image yang sama dengan ayahnya.

Ini karena tanpa komitmen, maka ia akan sangat mungkin sama seperti ayahnya dalam membangun sebuah keluarga. Dan bukan tidak mungkin permasalahan yang sama akan menimpa keluarganya. Dan ia memutuskan untuk menjadi ayah yang lebih baik dan belajar dari Bapa yang di surga.

Otakku pun berputar... Ada benarnya juga. Karena pada saat aku memutuskan menjadi seorang pria (ayah) yang lebih baik dan sesuai kehendak Tuhan, maka aku akan mampu memilih wanita yang sesuai kehendakNya pula. Selanjutnya aku dan tulang rusukku kan mampu memberikan image yang baik kepada buah hati keluarga kami dan mereka akan menjadi pribadi yang baik. Lalu ia akan bisa meneruskan apa yang sudah kami lakukan dan menjadi baik dan sesuai kehendakNya. Tul nggak? ^^

-----------------------------------------------------------------

So, kesimpulan dari note yang panjang dan rumit itu adalah...

* Akar dari semua problematika dan penyimpangan ditimbulkan dari keluarga
* Area inilah yang seringkali Iblis (musuh kita sesungguhnya) serang karena memang paling sensitif dan rentan
* Maka jagalah keluarga kita....

Dan yang terakhir...
Boeat temen-temen yang memiliki kekecewaan, penolakan, sesuatu yang kita nggak suka, dll. dalam keluarga, terutama terhadap Ayah dan Ibu. Terimalah setiap kelemahan mereka dan ampunilah kalau emang ada kekecewaan. Ini karena manusia tidak pernah sempurna.

Mungkin kita bilang, "Papa mestinya begini or begitu.." atau "Mama nggak seharusnya begini or begitu...". Tapi mereka telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa... Dan yang seharusnya dijadikan model dan panutan utama dalam hidup kita cuma Tuhan Yesus saja..

Putuskan sekarang juga. Hari ini dan keputusanmu menentukan masa depan generasi penerus kita. Apakah akan menjadi sesuai dengan rancanganNya yang damai sejahtera atau malah menjadi sesuatu yang buruk dan tidak berguna?

Akupun belajar saat merenungkan hal ini. Banyak hal yang waktu aku mendapatkan kenyataan ini tidak sesuai dengan harapan (tentang keluarga, ayah, dan ibu). Namun aku pengen berubah dan menjadikan keluarga menjadi benteng serta tempat pembekalan utama untuk menghadapi tantangan yang disiapkan si jahat.. I want to be a Real Man...!!! (buat cewe juga harus jadi wanita kesukaannya Tuhan) ^^

Sekian and Jesus Bless U All...




NB: Tak ada gading yang tak retak. Maaf bila ada kata yang salah dan kurang berkenan...

My reflection


Edwin 'edz' Lunggito